KAB. TANGERANG,PAGEDANGAN — WOLINDONESIA.ID. — Pemberitaan sebelumnya terkait asal-usul bahan bakar yang digunakan untuk genset dan alat pengeboran proyek pengambilan sampel tanah di wilayah BSD justru semakin memperkuat dugaan pelanggaran. Pernyataan Pak Bukhori yang Menyebutkan solar berasal dari bengkel Bintaro dan dikirim oleh Pak Yamto, ternyata dibantah habis-habisan oleh Pak Yamto sendiri — bahkan beliau melakukan video call langsung untuk membuktikan bahwa di bengkel tersebut tidak tersedia sama sekali stok solar (22/08/2026).
📌 Pak Yamto: Mereka Beli Sendiri & Usahakan Dexlite — BUKAN Solar Subsidi !
Dalam percakapan yang semakin memperjelas kejanggalan, Pak Yamto memberikan pernyataan yang jauh berbeda dari keterangan Pak Bukhori:
“Mereka beli sendiri. Tolong diusahakan itu Dexlite.” Ucap pak Yamto.
Jelas tertulis — bukan Subsidi surya . Padahal aturannya sangat tegas: setiap proyek komersial WAJIB menggunakan Solar Industri, DILARANG menggunakan Dexlite, Biosolar, maupun jenis BBM lain yang bukan untuk sektor usaha.

Untuk membuktikan kebenarannya, Pak Yamto bahkan mengajak Awak Media melakukan panggilan video (video call) melalui WhatsApp, menunjukkan langsung kondisi di bengkel Bintaro tersebut:
✅ Tidak ada tangki penyimpanan solar
✅ Tidak ada jerigen atau drum BBM
✅ Tidak terlihat stok bahan bakar sama sekali
“Jadi dari mana asal solar yang dipakai di lokasi proyek itu? Jika bukan dari bengkel, bukan Solar Industri — lalu jenis apa itu? Dan dari mana sumbernya? Semakin dijelaskan, semakin terlihat ada hal yang menutupi.” — Awak Media.
Selain pertentangan keterangan yang mencolok, hal lain yang memperkuat dugaan adalah kondisi BBM yang terlihat agak kehitaman — tidak jernih dan tidak sesuai standar Solar Industri yang seharusnya bening atau berwarna terang.
Ditambah dengan fakta bahwa:
– ❌ Pak Bukhori berbohong soal asal solar dari workshop.
– ❌ Pak Yamto tidak pernah mengirim dan tidak menyediakan tenaga surya.
– ❌ Disarankan memakai Dexlite — padahal proyek wajib Solar Industri.
– ❌ Warna BBM kehitaman — diduga bukan jenis yang sah.
– ❌ Tidak ada faktur, surat jalan, atau dokumen pembelian resmi yang bisa ditunjukkan
“Semua mengarah ke satu titik: dugaan penggunaan BBM yang bukan Solar Industri — kemungkinan besar BBM bersubsidi atau jenis lain yang tidak layak dipakai untuk proyek komersial. Jika semuanya sah, mengapa harus saling bertentangan? Mengapa harus berbohong?”
Awak Media menyayangkan tindakan-tindakan yang dilakukan oleh pihak terkait. Ketidakjujuran, perbedaan keterangan, dan dugaan penggunaan jenis BBM yang salah — semuanya memperkuat dugaan pelanggaran yang serius.
Oleh karena itu, kami akan meneruskan seluruh hasil investigasi ini kepada pihak yang berwenang — BPH Migas, Pertamina Patra Niaga, Dinas Perdagangan, hingga Aparat Penegak Hukum — guna:
1. ✅ Pemeriksaan langsung ke lokasi — ambil sampel BBM, periksa jenisnya, verifikasi apakah Solar Industri atau bukan.
2. ✅ Tindakan tegas jika terbukti melanggar aturan penggunaan BBM.
3. ✅ Menjadi efek jera bagi setiap pengusaha — agar tidak berani lagi menggunakan BBM yang bukan haknya untuk keuntungan pribadi.
4. ✅ Keadilan bagi rakyat — agar BBM bersubsidi sampai ke tangan yang berhak, bukan diambil oleh perusahaan.
“Kebenaran tidak bisa ditutupi dengan alasan atau ringkasan. Jika Solar Industri itu dipakai — bukti buktinya. Jika bukan — maka siaplah bertanggung jawab kepada rakyat dan kepada hukum. Kami tidak berhenti sampai di sini.”
Berita ini berdasarkan wawancara langsung, percakapan tertulis, dan bukti video call dengan pihak terkait. Seluruh dugaan menunggu verifikasi resmi pihak berwenang. Laporan ini disampaikan demi penegakan aturan dan perlindungan hak rakyat atas BBM bersubsidi.
#PTDayaKreasi #DexliteBukanSolarIndustri #WarnaBBMKehitaman #BukhoriVsYamto #VideoCallBuktikan #ProyekBSD #BBMIlegal #BPHMigas #PertaminaPatraNiaga #WolIndonesiaBeraniDanFakta


















